PERCUMA!!
Lo baca buku tapi nggak tau maksudnya.
Lo baca buku tapi nggak paham intinya.
Lo baca buku ditanya planga-plongo.
Lo baca buku cuma dibaca-baca doang.
-
*NGGAK ADA YANG PERCUMA*
Okay? Fase yang lo jalani bukan sesuatu yang sia-sia. So terus coba membiasakan diri guys. Karena gue pernah berada dititik itu bahkan sampai sekarang.
Ada beberapa bacaan yang harus gue buka 2-3 kali sampai nemu intinya. Disitulah tantangan membaca menurut gue. Semakin lo nggak paham, semakin lo tertantang memahamkan diri. Bila perlu tanya ke yang lebih paham. Jangan gengsi buat nanya.
Karena disisi lain, banyak hal yang ternyata belum kita ketahui coy.
Satu lagi. Jangan terlalu mengandalkan media sosial kayak Googling, searching, dan situs lain yang lo anggap valid. Ngomongnya sih media "sosial" tapi tanpa terasa bikin kita apatis juga sama lingkungan sekitar. Iya nggak?
Ya gitu deh, diskusi sama layar android nggak seasyik tukar pikiran sama manusia. Terkadang dunia maya yang kita anggap luas nggak seluas dunia nyata yang kita rasakan sempit. Buktinya, isi dunia maya berasal dari dunia nyata semua kan?
Coba deh kita tutup sebentar dunia maya, buat merenungkan dunia nyata kita. Dunia nyata yang kebanyakan juga terangkum dalam buku bacaan. Yaudah. Sekarang katakanlah begini. Kita datang ke toko buku, lihat beragam buku disana, cari isi dari salah satu bukunya diinternet. Pas kita googling kebanyakan hanya rivew atau sinopsisnya aja. Siapa juga yang mau nyalin sebanyak itu? Udah gitu kita harus punya aplikasi. Itupun mayoritas betseller buku dari major. Padahal banyak banget buku-buku dari self publish yang menyuguhkan tulisan-tulisan bergizi. Apa yang mau kita andalkan lagi? Artinya, internet tetap terbatas kan?. Buku yang kita baca hasil dari riset, tapi artikel online yang kita baca berasal dari rivew. Makanya banyak banget beredar berita hoax. Katanya doang "valid".
Nyatanya, referensi karya ilmiah kalau bisa nggak dari internet. Internet itu cuma penunjang, pembantu, atau alternative lain. Sebenernya cuma buat menyingkat waktu aja sih.
Jadi, sehati kan kalau buku lebih mengerucut?
Maka jangan sempitkan itu menjadi "tinggal buka internet, selesai" . Iya gue setuju. Tapi semua hanya sebagian kecil dari besarnya dunia sesungguhnya.
Ingat!! JENDELA DUNIA itu bukan internet, tapi buku.
________________________________________
Lo baca buku tapi nggak tau maksudnya.
Lo baca buku tapi nggak paham intinya.
Lo baca buku ditanya planga-plongo.
Lo baca buku cuma dibaca-baca doang.
-
*NGGAK ADA YANG PERCUMA*
Okay? Fase yang lo jalani bukan sesuatu yang sia-sia. So terus coba membiasakan diri guys. Karena gue pernah berada dititik itu bahkan sampai sekarang.
Ada beberapa bacaan yang harus gue buka 2-3 kali sampai nemu intinya. Disitulah tantangan membaca menurut gue. Semakin lo nggak paham, semakin lo tertantang memahamkan diri. Bila perlu tanya ke yang lebih paham. Jangan gengsi buat nanya.
Karena disisi lain, banyak hal yang ternyata belum kita ketahui coy.
Satu lagi. Jangan terlalu mengandalkan media sosial kayak Googling, searching, dan situs lain yang lo anggap valid. Ngomongnya sih media "sosial" tapi tanpa terasa bikin kita apatis juga sama lingkungan sekitar. Iya nggak?
Ya gitu deh, diskusi sama layar android nggak seasyik tukar pikiran sama manusia. Terkadang dunia maya yang kita anggap luas nggak seluas dunia nyata yang kita rasakan sempit. Buktinya, isi dunia maya berasal dari dunia nyata semua kan?
Coba deh kita tutup sebentar dunia maya, buat merenungkan dunia nyata kita. Dunia nyata yang kebanyakan juga terangkum dalam buku bacaan. Yaudah. Sekarang katakanlah begini. Kita datang ke toko buku, lihat beragam buku disana, cari isi dari salah satu bukunya diinternet. Pas kita googling kebanyakan hanya rivew atau sinopsisnya aja. Siapa juga yang mau nyalin sebanyak itu? Udah gitu kita harus punya aplikasi. Itupun mayoritas betseller buku dari major. Padahal banyak banget buku-buku dari self publish yang menyuguhkan tulisan-tulisan bergizi. Apa yang mau kita andalkan lagi? Artinya, internet tetap terbatas kan?. Buku yang kita baca hasil dari riset, tapi artikel online yang kita baca berasal dari rivew. Makanya banyak banget beredar berita hoax. Katanya doang "valid".
Nyatanya, referensi karya ilmiah kalau bisa nggak dari internet. Internet itu cuma penunjang, pembantu, atau alternative lain. Sebenernya cuma buat menyingkat waktu aja sih.
Jadi, sehati kan kalau buku lebih mengerucut?
Maka jangan sempitkan itu menjadi "tinggal buka internet, selesai" . Iya gue setuju. Tapi semua hanya sebagian kecil dari besarnya dunia sesungguhnya.
Ingat!! JENDELA DUNIA itu bukan internet, tapi buku.
________________________________________

Komentar